Kampungku, Inspirasiku

Nyinyir aroma sawah amat kentara pagi itu, embun pagi bulat bergelantuung di atas dahan rerumputan. Orang bilang tempat ini adalah surga Nusantara, tempat dimana segala kemajuan, kemewahan dan kesempatan kerja.

Saat itu aku belum mengerti apa-apa, pemikiran bocah itu masih seputar tapak kampungnya. Ya, meskipun berlabel ibukota, tempat itu dalam ingatanku masih kampung, setidaknya begitu masyarakat menyebutnya saat itu dan begitu pula aku menuliskannya dalam kolom alamat halaman depan buku Sekolah Dasarku.

Sawah masih teramat luas, tembol-tembok beton belum tumbuh masif, pepohonan masih menjulang tinggi. Kebersamaan adalah ruh pergerakan daerah ini. Di musim layang-layang anak-anak akan ramai berkumpul disawah samping rumahku itu, mengadu mana benang gelasan layang-layang mereka yang paling tajam dalam altar langit biru. Ba’ada maghrib anak-anak ini akan melanjutkan ‘ritual’ mereka, namun di tanah lapang berbeda. Bentengan, petak umpet, petak jongkok dan beragam permainan anak zaman itu akan ramai menghiasi jalan-jalan kampung itu.

Orang menyebutnya kampung Cipondoh atau versi administratifnya Jl. Masjid Nurul Iman, Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Kampung ini adalah kampung santri, begitu orang menyebutnya saat itu, bagaimana tidak, 3 Taman Pendidikan Alquran (TPA) berdiri di sepanjang jalur jalan kampung ini. Akupun turut jadi saksi, kampung ini gandrung ustadz dan kyai. Pun qoi dengan suara emas mereka. Siang hari adalah waktu anak-anak mengaji, diantar ibu mereka, ransel menggelantung di pundak, peci putih terpakai mirip di kepala, dengan buku iqro terselip rapih di ransel itu.

Ini adalah kampung Betawi, sejak kecil anak-anak disini dibiasakan mengaji di langgar-langgar asuhan ustadz betawi. Mirip kebiasaan para tokoh bangsa asal minang di era kemerdekaan dulu, Hatta, Natsir, Agus Salim dll. Maka apling tidak anak-anak kampung ini lancar melantunkan ayat Alqur’an.

Zaman itu adalah zaman terbaik di kampung itu. Globalisasi belum masuk ke sendi-sendi kehdupan tradisional zaman itu. Meskipun, 1 masalah di daerah itu : Pendidikan. Berstatus bagian ibukota tidak serta merta menjadikan kualitas pendidikan anak-anak disini baik, bayang-bayang mahalnya pendidikan dan paradigma inferiori complex dampak kolonialisme lebih dari 3.5 abad mengendap akut dalam pemikitan masyarakat di kampung ini. Kalo boleh kembali ke zaman itu, saya akan lantang berteriak “SAYA PUNYA BANYAK TEMAN DI KAMPUS YANG BERASAL DARI PELOSOK DAN MEREKA SUKSES DENGAN KETERBATASAN EKONOMI-SOSIAL MEREKA”.

Suatu hari kemudian, perjalanan hidup melihat (sedikit) Indonesia, meyakinka sebuah kesadaran baru, tempat ini memiliki akses yang jauh lebih baik daripada saudara-saudara sebangsanya di pelosok dan di tapal batas negeri ini.

Tempat inilah yang kemudian menjadi pijakan dasarku melihat dunia kemudian.

 

*foto bukan foto sebenarnya..

10 Januari 2014, Asal tulis terinspirasi BAB 2 Anak-Anak Revolusi

Travel Baraya Bandung, menunggu berangkat.

2 thoughts on “Kampungku, Inspirasiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s