Natsir, Kesederhanaan dan Keteladanan Hidup

Judul buku : Natsir Politik Santun Diantara Dua Rezim

Penulis : Tim Penulis Tempo

Penerbit : kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit : Januari, 2011

Tebal buku : 164 halaman

ISBN : 13-978-99-91-0307-9

natsir

“Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan” (Kahim, Guru Besar Universitas Cornell)

Awalnya saya bingung memberi judul tulisan ini, berbagai opsi muncul paska kembali membaca potongan perjalanan salah satu tokoh pejuang bangsa dengan segala kesederhanaannya ini. Natsir dan keteladanan hidup, Natsir dan Politik Islam, Natsir dan Integritas Pemimpin, Natsir dan Masterpiece Mosi Integral dll. Tapi akhirnya saya memilih Natsir, Kederhanaan dan Keteladanan Hidup yang saya rasa cocok menggambarkan kehidupan sosok satu ini.

Dalam ilmu geologi dikenal sebuah istilah the present is key to the past. Kredo ini mengajarkan bahwa kondisi bumi hari ini adalah sebuah pembelajaran untuk mengetahui bagaimana keadaaan bumi di masa silam. Namun, dalam konteks sejarah, justru yang berlaku adalah sebaliknya, pembelajaran sejarah adalah sebuah catatan untuk kita pelajari dan ambil hikmahnya untuk kehidupan hari ini. Seperti perkataan bijak George Santayana seorang filsof Spanyol Those who fail to learn the lessons of history are doomed to repeat them.

Buku terbitan tempo dengan judul Natsir Politik Santun Diantara Dua Rezim ini memang bukan sebuah biografi utuh yang membahas sosok Natsir secara runut sejak kehidupan kecilnya di Alahan Sumatera Barat hingga kehidupan senjanya mengurusi Dewan Dakwah Islam. Tetapi, hal itu sama sekali tidak mengurangi pembelajaran untuk membaca kembali kehidupan salah satu tokoh bangsa ini.

Kehidupan masa kecil Natsir dimulai dari sebuah daerah dataran tinggi di Kaki Gunung Talang Sumatera Barat, yakni sebuah daerah bernama Alahan. Namun, karena harus mengikuti pekerjaan ayahnya yang berpindah-pindah, kehidupan Natsir kecil harus nomaden dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini berdampak pada perpindahan sekolahnya dari satu HIS (sekolah dasar zaman dulu) ke HIS lain, mulai dari HIS Solok, HIS Partikelir Padang, hingga HIS Belanda yang sempat menolaknya.

Selesai menamatkan HIS, berbekal kecerdasannya, Natsir mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di MULO Padang, sebesar Rp 20 per Bulan. Tidak banyak cerita yang bisa di gali dari kehidupan Natsir di MULO ini.

Fase paling menarik dalam kehidupan seorang Natsir adalah fase kehidupan saat ia memasuki sekolah menengah atas atau saat itu disebut  AMS (Algemeene Middelbare School), Natsir yang sejak kecil hidup dalam lingkungan tanah minang harus merantau ke Bandung dan melanjutkan pendidikannya di AMS Bandung. Pada fase inilah pemahaman dan jiwa pergerakan Natsir mulai tumbuh. Seperti dijelaskan dalam Bab Menunggu Beethoven di Homan, tumbuh dalam kehidupan Belanda Natsir melek terhadap dampak penjajahan terhadap tanah airnya. Hal ini semakin bertambah tatkala Natsir bertemu dengan A. Hassan, warga negara Singapura asal India yang dikemudian hari menjadi guru dan teman diskusi Natsir, beliau jugalah yang banyak berkontribusi dalam pemikiran Natsir memandang Islam. Idealisme yang menyala bahkan membuat Natsir menolak beasiswa Meester in de rechten (sarjana hukum) di Belanda dan lebih memilih mendirikan sekolah partikelir di Bandung. Proyek idealis. Cita-citanya mendirikan sekolah ini terangkum dalam ucapannya.“ Maka sistem pendidikan Islam itu, ringkasnya adalah ditujukan kepada manusia yang seimbang. Seimbang kecerdasan otaknya dengan keimanannya kepada Allah dan Rasulnya” 

Keteladanan Hidup Natsir

Menyelami sosok Natsir adalah menjelajahi keteladanan seorang manusia Indonesia, Ia utuh, pernah hadir dan hidup dalam dinamika kehidupan bangsa ini. Setidaknya menurut penulis ada 3 keteladanan sosok mantan Menteri Penerangan ini.Pertama adalah kesederhanaannya, menjadi pejabat negara tidak serta merta menjadikan kehidupannya glamor. Ia tetap seorang Natsir yang sederhana. George McTurnan Kahim, penulis buku Natsir, 70 Tahun Kenang-Kenangan Kehidupan dan Perjuangan sekaligus Guru Besar Universitas Cornell yang pernah bertemu dengan beliau mengatakan “Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan”. Kemejanya bertambal dan Ia hanya memiliki 2 setel kemeja. Itulah Natsir. Di lain kisah, pernah suatu ketika paska turun dari jabatannya sebagai Menteri Penerangan, seorang tamu datang dari Medan, niatnya amat baik, ingin menghadiahi mantan pejabat negara itu sebuah mobil sedan, karena ia menilai, sebagai mantan pejabat pemerintahan, mobil pribadi yang selama ini digunakan Natsir sudah tak layak. Namun, mobil yang sudah di parkir di halaman rumah Natsir itu ditolaknya, kepada anak pertamanya Ia mengatakan “Mobil itu bukan hak kita, lagi pula yang ada masih cukup”. Fase awal menjabat sebagai Menteri Penerangan pun dijalani Natsir dengan teladan kesederhanaan yang luar biasa, menumpang dari satu rumah ke rumah lain adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri dari kehidupannya di awal masanya menjadi menteri penerangan. Sungguh, teladan luar biasa.

 

Kedua adalah persahabatannya dengan lawan politik, sebagai seorang politisi, perbedaan pandangan dalam berpendapat, utamanya terkait nilai ideologi yang dibawa adalah hal biasa, tapi yang hebat dari sosok Natsir adalah bagaimana Ia dapat tetap berkawan diluar sidang dengan lawan-lawan politiknya. Contohnya adalah kedekatannya dengan Aidit, Ketua Komite Central Partai Komunis Indonesia, sebagai ketua Partai Komunis, Aidit sangat memperjuangkan tegaknya Komunisme di Indonesia. Sebaliknya, Natsir sebagai Tokoh Masyumi menginginkan negara dijalankan di atas nilai-nilai Islam. Pertentangan ini membuatnya mereka sering bersitegang di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi di luar disidang keduanya bersahabat. Keduanya akrab ngrumpi tentang keluarga masing-masing. Bahkan tak jarang Natsir menumpang pulang dengan Aidit. Tidak saja dengan Aidit, menurut penuturan Lies, anak pertama Natsir,  TB Simatupang, ketua Persekutuan Gereja Indonesia pun sering berdiskusi dengan Natsir di rumahnya.

 

Ketiga adalah keteladanannya dalam menjunjung kepentingan negara. Bagi Natsir kepentingan negara adalah segalanya, meskipun kerap berbeda pandangan politik, ketika sudah menyangkut masalah negara, prinsipnya adalah “Untuk kepentingan bangsa, para politikus tidak bicara kami dan kamu, tetapi kita”. Keteladanan ini pun terangkum dalam dialognya dengan Bung Karno.“Bung Natsir, kita ini dulu berpolemik, ya, tapi sekarang jangan kita buka-buka soal itu lagi.”“Tentu tidak. Dalam menghadapi Belanda, bagaimana pula? Nanti saja.”

 

Negeri ini tak pernah kehabisan sosok teladan, membaca kisah mereka adalah menghadirkan 2 rasa : kagum dan kecewa. Kagum karena mereka adalah putra-putri dan pemimpin Indonesia dimasa nya, kecewa karena hari ini sulit rasanya melihat sosok keteladanan mereka pada pemimpin-pemimpin kita. Tapi semoga membaca kisah mereka juga adalah sebuah tuntutan, bahkan ada tanggung jawab kita untuk mencontoh nilai-nilai baik mereka.

 

@dennyrezak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s