Hal Mendasar Yang Terlupa

Pagi masih teramat dingin, waktu menunjukkan pukul 06.10, tumben agenda Waktu Berkah Shubuh (WBS) asrama molor 10 menit, biasanya bahkan sebelum jam 6 pun sudah selesai. Hari ini jam 7 pagi ada 2 forum yang harus saya hadiri, paska WBS itu, saya memilih sedikit merebahkan diri sampai pukul 06.30, setelah itu baru mandi lalu berangkat, dengan kalkulasi waktu seperti itu, saya memperkirakan saya akan sampai tepat waktu di masjid Salman.

Ternyata saya salah, pukul 07.00 saya baru siap berangkat dari asrama, terpaksa akhirnya saya menunda makan pagi itu, agar tidak semakin NGARET. 12 menit perjalanan akhirnya saya tiba di masjid Salman. Celingak-celinguk, kosong.

18 menit kemudian, 07.30 pun sama, belum ada satupun orang yang berkepentingan hadir. Miris.

Betapa sering hal ini terjadi. Dan terasa semakin biasa.

 

Maaf saya telat, macet. Hello, Baru pertama kali tinggal di Bandung mas?

Saya telat, angkotnya ngetem. Dari zaman baheula juga angkot sering ngetem bro, kalkulasi waktu lah.

*10 menit sebelum acara* Ijin telat, baru mau mandi. What the **** ?

 

Respect to time, respect to system and respect to people.

 

3 filosofi itu yang akhirnya saya dapatkan dari kehidupan di asrama hampir 2 tahun terakhir, filosofi sederhana tetapi dalam sekali maknanya. Berbicara respect to time, sejatinya berhubungan dengan kedua setelahnya. Jika kita tidak respect to time alias ngaret, maka secara tidak langsung kita telah tidak respect terhadap orang lain (respect to people), dan tentu kita tidak respect terhadap sistem (kesepakatan waktu) yang sudah kita sepakati (respect to system).

 

Small thing, Big impact

2 tahun lalu saya berkesempatan ikut dalam rombongan KEMENPORA untuk kunjungan k China selama 10 hari, dalam rombongan besar itu, hadir petinggi Kemenpora, petinggi salah satu organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia (sebut saja X) dan rombongan pemuda. Selama disana, kami dipandu oleh beberapa guide berkebangsaan China. Setiap harinya kami memiliki jadwal kegiatan yang sudah disusun sangat detail dan setiap paginya kami harus berkumpul di waktu yang telah ditentukan pula. Hari-hari awal semuanya berjalan lancar dan aman terkendali. Namun, kebiasaan atau bahkan karakter buruk itu menunjukkan dirinya di negeri orang. Hari-hari itu, hampir setiap pagi kami baru berangkat 30-45 menit sesuai jadwal, ini buruknya, bagi warga Indonesia (tanpa menggenalisir seluruhnya) keterlambatan demikian mungkin biasa, tapi bagi guide kami dan bagi saya, itu MENJENGKELKAN. Sehari dua hari, makin sering kami terlambat, makin membesar pula ras kesal di guide kami. Hingga puncaknya Ia marah dan muncullah perselisihan.

Dari hal sederhana seperti itu, Anda tau apa yang terjadi? Bukan sekedar impact di hari-hari itu, tetapi muncul image sekelompok orang yang akhirnya menjadi image 1 negara. dan Anda tau, itu tidak hanya selesai hari itu, karena suatu saat konsep mouth to mouth marketing akan bekerja. Bagaimana orang-orang Indonesia? tabiat mereka buruk, tidak disiplin, tidak menghargai waktu. NAH !

Jangan salah, hal sepele ini juga mempengaruhi ekonomi suatu negara, sebagai contoh, sebagai seorang yang hobi traveling, selain buku dan bertanya teman, referensi tentang kondisi sebuah tujuan wisata biasanya saya search via google. Contohnya, waktu akan pergi ke Thailand, saya mencari tahu bagaimana transportasi disana. Satu hal yang akhirnya saya simpulkan dari tulisan para traveler blogger, jangan menggunakan transportasi tuk tuk (semacam becak Thailand), karena tidak aman, banyak penipuan. Mari sedikit kita lihat lebih jelas. Tidak semua sopir tuk tuk suka menipu atau menjebak turis, tapi karena ulah oknum satu dua sopir tuk tuk dan komplotannya, hal ini akhirnya menjadi image seluruh tuk tuk, coba bayangkan, berapa banyak akhirnya yang tidak akan menggunakan tuk tuk. Bagaimana nasib sopir tuk tuk yang baik?

 

Masalah Kita Hari Ini

Saya sangat sepakat dengan pendapat tere liye dalam bukunya negeri di Ujung Tanduk, masalah negeri ini intinya satu, penegakan hukum yang buruk. Korupsi muncul dari buruknya sisem penegakan hukum, bahkan ‘bermainnya’ para penegak hukum. Tidak maksimalnya performa sebuah departemen muncul karena korupsi menggerogoti kinerjanya. Pembangunan daerah –salah satunya- tidak berjalan dengan baik karena dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan daerah justru di korupsi. Ketidak disiplinan masyarakat yang akhirnya berbuah menjadi karakter juga muncul akibat pembiaran pelanggaran, yang secara eksplisit mengatakan, silahkan lanjutkan lagi perbuatan Anda.

Pun begitu dengan waktu, betapa sering pembiaran ketidakdisiplinan waktu (orang-orang telat) kita lakukan. Dan mirisnya, mereka yang telat seolah tidak merasa bersalah. Cih!

Sekali telat, dibiarkan, oh ternyata gak apa apa telat.

Bro bro,  mari bedakan hal kecil, sepele dengan hal mendasar.

Mereka ingin islam jaya di masyarakatnya, tetapi mereka tidak menetapkan nilai islam didalam dirinya.

 

Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa taf ‘aluun”

Refleksi, Korut Salman, 5 Februari 2014.

One thought on “Hal Mendasar Yang Terlupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s