Kita dan Yulia : Sebuah Pembelajaran

Selasa malam, tanpa sebuah perencanaan penulis diajak untuk pergi ke salah satu rumah di sudut daerah Bandung : Lembang. Ma’mun Salman, beliaulah yang mengajak penulis malam itu, salah satu sosok yang mungkin tidak banyak dikenal orang, tapi kontribusinya, jangan ditanya. Dalam wadah bernama Kampus Peduli beliau hadir menjadi teman bagi kaum papa: anak jalanan, orangtua jompo, warga desa di pelosok-pelosok Jabar hingga yang teranyar beliau membaktikan dirinya dalam program Pondok Prestatif Indonesia, sebuah wadah yang mengumpulkan anak-anak pelosok yang tak berpunya untuk dibina dalam satu rumah, disekolahkan dan dilatih kemampuan berwirausaha.

Perjalanan dari kampus menuju Lembang kami tempuh sekitar 20 menit, sesampainya di sekitar daerah gunung batu, kami memarkirkan motor lalu memasuki gang-gang sempit, hingga sampai pada sebuah rumah.

Malam itu, Kang Mamun pergi untuk membawa persedian makanan untuk anak penghuni rumah itu, namanya Yulia, usianya 10 tahun. Saya terenyuh oleh 2 hal : Kondisi Yulia dan Ketulusan Kang Ma’mun. Badannya tergolek lemas diatas kasur, kondisi tubuhnya sama sekali tidak menggambarkan usianya. Ia belum bisa berjalan hingga hari ini. Yulia, jika sebelum dilahirkan kedunia Ia boleh meminta, mungkin Ia akan meminta kepada Tuhan untuk tidak melahirkannya di daerah gunung batu lembang, dalam keluarga yang jauh dari mampu, Ia mungkin akan meminta dilahirkan di pusat kota Bandung atau dimanapun dalam keluarga yang lebih mapan. Terlahir dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan, sejak kecil Yulia menderita gizi buruk, kondisi ini yang akhirnya menyebabkan diusianya yang kesepuluh Ia masih belum bisa jalan, bahkan sebelum bertemu Kang Mamun dan Kampus Peduli, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, saking minimnya gizi yang Ia terima. Penderitaan bocah kecil ini semakin bertambah, minim kasih sayang, kedua orangtuanyatelah tiada, masalah sama, ekonomi yang berdampak pada pemenuhan gizi. Hari ini Ia dirawat oleh kakek dan neneknya dan Anda Tahu? Kakeknya sejak beberapa hari lalu tidak bisa melihat, buta.

Sejak satu tahun lalu, Kampus Peduli turut serta membantu Yulia dan kakek-neneknya, membangun rumah dan senantiasa memantau kondisi kesehatan Yulia. Malam ini saya kagum, kang Mamun seolah menampar saya dan mungkin kita semua, Ia teramat peduli pada bocah ini. Hampir setiap sepuluh hari sekali ini mengunjungi Yulia, membawa makanan sehari-hari Yulia, sekaligus memantau hampir seluruh kebutuhan lainnya. Malam itu Kang Mamun begitu akrab bercengkrama dengan anak yang bahkan tidak bisa berbicara itu, mengajaknya bermain dan hanya dijawab oleh sang bocah dengan senyum dan sekali-kali mencoba tertawa.

Gunung Batu Lembang, tempat ini hanya berjarak 20 menit dari pusat kota Bandung, kota terbesar ke 3 di Indonesia. tapi, ya, beginilah kondisi negara ini saudara, kesejahtraan masih menjadi barang langka bagi penghuninya. Yang kaya kian kaya dan yang miskin kian miskin, gap itu semakin besar.

Kita yang berlabel mahasiswa Tambang kelak pasti akan menjumpai kesenjangan itu di pelosok Indonesia, tinggal pertanyaannya adalah bagaimana respon kita? Acuh? Masa bodo? Atau peduli? Sejatinya saat menjadi mahasiswa inilah menurut penulis saat kita membangun rasa kepedulian itu, dimanapun dan bagaimanapun. Semoga.

*tulisan ini dibuat untuk articare (artikel sosial HMT-ITB)

Yulia Sebelum Bertemu Kampus Peduli

Yulia Sebelum Bertemu Kampus Peduli

Yulia Setelah Bertemu Kampus Peduli

Yulia Setelah Bertemu Kampus Peduli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s