Opini Minerba (2) : Melihat Kebijakan Hilirisasi Tambang, Jangan Setengah-Setengah!

Tulisan ini hadir karena sebuah kegelisahaan, cukup banyak kawan saya yang akhirnya melihat kebijakan hilirisasi minerba ini setengah-setengah, entah hanya melihatnya dari satu pihak saja (perusahaan) atau melihatnya tidak secara utuh sejak aturan ini diterbitkan, tetapi hanya melihatnya sejak 12 Januari 2014 lalu. Malah, menurut saya, akan lebih jelas ketika Anda melihat aturan ini secara komprehensif dengan mempelajari sejarah pertambangan, khususnya Kontrak Karya atau Kuasa Pertambangan itu sendiri.

 

Aturan ini mendadak, merugikan perusahaan

Sejak awal diterbitkan UU Minerba (2009) sudah mewajibkan pemegang IUP atau IUPK bahkan Kontrak Karya untuk melakukan pengolahan dan pemurnian didalam negeri. Dengan batas maksimal 5 tahun setelah UU Minerba terbit, yakni 12 Januari 2014.

Pemegang IUP atau IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara (Pasal 99 (c))

 

(1) Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri.

(2) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengolah dan memurnikan hasil penambangan dari pemegang IUP dan IUPK lainnya.

Pasal 103

Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 170

5 tahun, apa yang dilakukan industri? Justru terus menggugat UU ini, justru melakukan ekspor besar-besaran. Sama sekali tidak ada yang berniat bangun smelter. Perusahaan dirugikan?!

Pembangunan Smelter terlalu mahal, perusahaan tidak mampu bangun smelter, merugi.

Oke mari kita kalkulasi, sebagai contoh Pembangunan Smelting Gresik tahun 1996 membutuhkan biaya US$ 750.000 atau sekitar 7.5 Miliyar Rupiah. Mari bandingkan dengan pendapatan Freeport seperti yang dijelaskan Marwan Batubara dalam artikelnya berjudul Tambang Emas Freeport: Kekayaan Negara yang Terampas (2)

 

Dari data yang kami kumpulkan diperoleh bahwa potensi kandungan mineral Ertsberg mencapai 50 juta ton bijih mineral . Dinas Pertambangan Papua menyebutkan cadangan Ertsberg sebanyak 35 juta ton, dengan kadar Cu 2,5%. Jika diasumsikan harga rata-rata tembaga selama sekitar 20 tahun periode penambangan di Ertsberg adalah US$ 2000/ton, pendapatan yang dapat diraih dari seluruh potensi mineral tambang Ertsbegr adalah (35 juta ton x 2000 US$ /ton) = US$ 70 miliar.

Dengan itu kita bisa membandingkan, bagaimana keuntungan yang selama ini yang didapat dan KECILNYA nilai pembangunan smelter. Pun, jika memang tidak ingin mengelurkan biaya untuk pembangunan smelter, pemerintah tidak memaksa, perusahaan bisa bekerja sama dengan perusahaan pemilik smelter, memanfaatkan jasa mereka atau join dengan perusahaan lain untuk membangun smelter.

 

 Pemerintah menekan industri dengan adanya adanya pajak progresif

Pemerintah kurang baik apa, aturan ini akhirnya dilonggarkan pada 12 Januari 2014 lalu, karena ternyata industri tidak siap, penurunan standar kadar khususnya tembaga yang awalnya 99.9% baru bisa mengekspor dan akhirnya PP dan Permen ESDM 1/2014 menurunkannya hingga 15%, apakah ini yang disebut penekanan? Kembali, 5 tahun waktu sejak 2009 apa yang dilakukan industri ?

 

Pajak Progresif menekan perusahaan, daerah tempat perusahaan berada bisa kolaps

Kenapa tidak ajukan pertanyaan ini kepada perusahaan, kenapa sejak aturan ini dikeluarkan pada 2009 perusahaan terlihat sama sekali tak berminat bangun smelter. Salahkah ketika sebauh negara akhirnya mengatur pengelolaan Sumber Daya Alamnya. Indonesia hanya kembali ke falsafah dasar pengelolaan kekayaan republik ini.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Bagan dibawah ini akan lebih menggambarkan banyak hal, gambar pertama akan menjelaskan bagaimana perubahan aturan batas standar kadar itu terjadi.  Gambar kedua adalah timeline aturan hilirisasi sejak pertama kali digulirkan 2009 silam.

perkembangan hilirisasi

Perbandingan Permen ESDM Tentang Hilirisasi

 

alur hilirisasi

Timeline Aturan Hilirisasi Tambang

 

Hilirisasi sama sekali tak mendasar

Wah, statement ini lebih mudah lagi membantahnya, mari kita bahas perpoin tujuan dari aturan ini.

  • Implementasi UUD 1945 pasal 33 ayat 3 (cukup jelas)
  • Manfaat Limbah hasil Smelter

ex : Slag di pabrik feronikel PT Antam untuk lapisan jalan dan reklamasi pantai.

 

  • Membuka Lapangan Kerja Baru

Bisa ambil sampel dari jumlah tenaga kerja yang terserap dari PT. Smleting Gresik

 

  • Meningkatkan Nilai Tambah (perekonomian nasional)

Bijih bauksit harganya 20 hingga US$ 25 per wet metric ton. Diolah menjadi alumina harga US$ 350 per ton.

Nikel US$ 30 – 40 per wet metric ton, setelah menjadi feronikel 14.000an per ton.

 

  • Pengembangan Industri Pemurnian

Pengembangan Kemampuan Sumber Daya Manusia dan Teknologi Indonesia dalam hal pemurnian. 

 

  • Katalis industri lain (bahan baku)

Antam : feronikel (produk olahan bijih nikel kadar tinggi) untuk industri baja nirkarat (stainless steel).

Tembaga katoda dan aluminium untuk industri kabel (tapi sebagian masih impor karena dalam negeri belum mencukupi).

Produksi pupuk (sulfur >> asam sulfat) untuk bahan baku pupuk

2 thoughts on “Opini Minerba (2) : Melihat Kebijakan Hilirisasi Tambang, Jangan Setengah-Setengah!

  1. Yang ingin saya tanyakan, apakah di setiap Kontrak Karya perusahaan pertambangan terdapat perbedaan perjanjian larangan ekspor mineral mentah? Sebab, PT Newmont mengklaim dalam KK mereka, seharusnya larangan tersebut berlaku mulai tahun 2017. Apakah mungkin ada perjanjian lain antara pemerintah dengan PT NNT?. Terima kasih sebelumnya…

    • tidak ada, karena dasar larangan ekspor bijih ada di UU Minerba (UU 4/2009) dan didetailakn melalui permen ESDM..

      di UU Minerba dijelaskan maksimal 5 tahun setelah UU itu terbit atau jatuh tempo pada 12 Januari 2014 ekspor bijih (dengan batasan kadar yang tercantum di Permen) sudah tidak boleh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s