Hari 7 Turki : Jalan Kaki Eropa-Asia! (Part 2)

Selat Bosphorus, Terlihat Dataran Turki Asia

Selat Bosphorus, Terlihat Dataran Turki Asia

Menikmati sebuah es krim di pinggir pantai Bosphorus adalah sesuatu yang menyenangkan, aneh dan sekaligus unik. Menyenangkan karena dari pinggir pantai ini kita dapat menyaksikan keindahan Selat Bosphorus yang bersih, darinya karang-karang Bosphorus terlihat jelas, indah dan ranum. Unik dan aneh karena didepan sana terlihat dataran Asia dengan sangat jelas. Inilah perbatasan benua yang terkenal akan kemajuan teknologinya dan benua dengan penduduk terbanyaknya. Dalam khayalan menikmati es krim dan duduk di area perbatasan saya teringat kisah dalam buku Meraba Indonesia karangan Ahmad Yunus. Buku ini adalah kumpulan kisah Ahmad Yunus dan Farid Gaban, 2 orang wartawan yang melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia selama 1 tahun lebih. Perbatasan, dalam bukunya, kata perbatasan sungguh jauh berbeda dengan perbatasan di hadapan saya ini. Kisah perbatasan dalam kisah perjalanan Yunus selalu berakhir pilu dan miris.

Sebatik adalah salah satu contohnya, inilah salah satu pulau terluar Indonesia, inilah satu pulau dengan 2 tuan : Indonesia dan Malaysia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sekali melihat seorang pemilik rumah sangat menjaga dan merawat keindahan etalase atau halaman depan rumahnya. Namun belum –untuk tidak mengatakan tidak- bagi Indonesia, di negeri kita, etalase (perbatasan) negeri adalah potret terluar area tak terawat, konsep pembangunan negara kita masih teramat Jawa Sentris, semakin jauh dari Jawa, maka semakin teracuhkan.

Puas menikmati es krim dan keindahan altar Bosphorus, kami melanjutkan perjalanan, mengedarkan pandangan, kami sadar Bosphorus Bridge sebagai tujuan akhir kami masih jauh, jembatan itu masih nampak sangat kecil dari sini.

Perjalanan panjang ini kembali berlanjut, namun entah kenapa saya tidak merasa lelah dan sangat menikmatinya. Menikmati kehidupan lokal warga Istanbul, melihat secara langsung sistem transportasi mereka, merasakan bagaimana sistem pedestrian (pejalan kaki) mereka yang sudah sangat baik, hingga menikmati arsitektur ala barat yang memanjakan mata.

Perjalanan kami terhenti ketika kami menyaksikan sebuah bangunan megah dan klasik. Ternyata bangunan ini adalah Dolmabache Palace. Sebuah Istana dengan arsitektur klasik yang tepat berada di pinggir pantai Bosphorus.

Dolmabache Palace sang Istana transisi

Gerbang depan Dolmabache Palace

Gerbang depan Dolmabache Palace

Inilah salah satu keunggulan Turki khususnya Istanbul, yakni bagaimana mereka dapat menjadikan warisan sejarahnya menjadi daya tarik wisata. Meskipun sudah berusia satu abad lebih, Istana Dolmabache masih sangat terawat. Istana ini dibangun di masa Kesultanan Abdul Mecid I yang merupakan sultan ke-30 dalam silsilah kerajaan ottoman atau lebih tepatnya dibangun antara tahun 1843 hingga 1856. Dalam kisahnya pembangunan Istana yang dinilai sebagai salah satu Istana terbaik didunia ini menghabiskan dana sekita 5 juta koin emas Ottoman Mecidiye atau sekitar 35 ton emas. Wow.

Istana yang memiliki luas 45.000 m2 ini terdiri atas 3 bagian yakni : Mabeyn Imperial (Ruang Kenegaraan), Muayede Salon (Hall Upacara) dan Imperial Harem. Mabeyn Imperial dialokasikan untuk urusan administrasi negara, Imperial Harem dialokasikan untuk kehidupan pribadi sultan dan keluarganya dan Muayede Salon yang terletak di antara Mabeyn Imperial & Imperial Harem, dialokasikan menyambut negarawan dalam beberapa acara kenegaraan penting. Bagi para wisatawan, tak perlu khawatir dalam mengunjungi museum ini, karena para pengunjung akan dimanjakan oleh pemandu istana yang akan menjelaskan isi dari museum ini.

Pada zamannya Dolmabache Palace adalah tempat tinggal bagi para sultan yang memerintah kesultanan Ottoman, setelah sebelumnya Topkapi Palace. Topkapi dianggap kurang luas, sehingga Abdul Mecid I membangun Istana yang akhirnya menjadi kediaman para sultan hingga Kesultanan Utsmani runtuh pada 1924 M. Hingga akhirnya Istana ini dijadikan miliki Republik Turki. Oiy, Istana ini buka setiap hari selasa, rabu jumat mulai pukul 09.00-16.00.

Puas menikmati Dolmabache Palace, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan, area Dolmache Palace sepertinya merupakan persimpangan menuju Taksim, karena diarea ini cukup ramai bus yang siap mengangkut penumpang. Ketegangan Taksim terkait Taman Gezi pun kami rasakan hari itu, puluhan petugas keamanan ramai berjaga di sekitar area itu.

Perjalanan kami menuju Bosphorus Bridge akhirnya semakin mendekati akhir, pos pemberhentian selanjutnya adalah keramaian pelabuhan Besiktas, di area ini bus dan feri ramai lalu lalang. Pun begitu dengan arus manusia.

Pelabuhan Besiktas

Pelabuhan Besiktas

Nilai Historis sekaligus geografis Selat Bosphorus menjadikannya tujuan wisata banyak wisatawan, maka tak heran sepanjang Bosphorus banyak lalu lalang Feri maupun sekedar kapal biasa. Dan terhitung sejak Eminonu di Area Galata Bridge, maka Besiktas ini adalah pelabuhan / tempat transit kapal ke-3 yang kami temui.

Salah satu sudut Jalan Istanbul

Salah satu sudut Jalan Istanbul

Narsis dulu :D

Narsis dulu😀

Terhitung 45 menit sejak Besiktas akhirnya kami tepat berada dibawah Bosphorus bridge, tapi ternyata perjalanan ini tidak berakhir happy ending, setelah bertanya ke beberapa warga lokal disana, kami baru tahu ternyata Bosphorus Bridge tidak diperkenankan untuk pejalan kaki, meskipun sebelumnya memang ada masa dimana pejalan kaki diperbolehkan melalui jembatan ini, namun belakangan hal itu dilarang, karena dinilai berpotensi sebagi tempat bunuh diri.

Tepat dihadapan saya tiang pancang Bosphorus Bridge berdiri kokoh, seolah menantang untuk kami taklukkan, namun apa daya jembatan dengan panjang 1560 m dan Lebar 33 meter yang dibangun pada 20 Februari 1970 hingga 29 oktober 1973 ini tidak memperkenankan kami menaklukkannya.

Sebelum akhirnya memutuskan kembali pulang – tentunya tidak kembali dengan jalan kaki, tapi dengan tram- kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di Ortokay Mecidiye Mosque. Masjid ortokay adalah salah satu masjid unik karena letaknya yang menjorok ke laut pada Istanbul bagian Eropa. Namun sayangnya ketika kami berkunjung ke sana, masjid ini sedang dalam tahap renovasi.

Langit senja akhirnya menemani perjalanan kami pulang, untuk kembali menuju Eyub Sultan kami harus menaiki tram/ otobus 3 kali, dari area Bosphorus Bridge ini menuju Besiktas, Dari Besiktas menuju Eminonu (Galata Bridge), baru setelahnya menuju area Eyub Sultan. Dari area Bosphorus Bridge kami menggunakan Otobus, sementara dari Besiktas kami menggunakan tram. Inilah keuntungan melakukan perjalanan di Istanbul, sistem transportasi massal kota ini cukup mudah bagi para wisatawan.

Hello Mr. Franz

Sesampainya di kawasan Eminonu dan setelah sedikit menemani teman-teman memberi cinderamata di Spice Bazar, kami berpisah. Kawan-kawan langsung pulang menuju KJRI Istanbul, sementara saya bergerak menuju Yenni Cammi, hari itu saya sudah memiliki janji dengan Dr. Franz, seorang paramedik berkebangsaan UK yang saya temui secara tidak sengaja saat backpacker kemarin.

Gerbang masuk Spice Bazar, Tepat didepan yeni Camii

Gerbang masuk Spice Bazar, Tepat didepan yeni Camii

Area Eminonu kian ramai, inilah waktu rush hour area ini, pergerakan manusia begitu padat di salah satu pusat keramaian Istanbul ini. Spice Bazar, Yenni Camii, Galata Bridge, Pelabuhan menjadi satu tumpah ruah. Semua orang sibuk bergegas dengan agendanya masing-masing.
Tidak terlalu lama saya menunggu di depan Yenni Camii, sweater orange cukup mencolok bagi Dr. Franz untuk menemukan saya. Setelah itu Dr. Franz mengajak saya menuju area bawah Galata Bridge alias area kafe. Dr. Franz merupakan sosok yang sangat toleran, setelah kemarin saya bercerita bahwa saya adalah seorang muslim, dalam mencari tempat makan ini ia begitu memastikan bahwa kafe itu menyediakan makanan halal.

Selama mencari kafe yang tepat, sejujurnya saya cukup cemas, ini adalah hari ke 7 saya di Istanbul dan sudah saya bilang sejak awal, ini bukan perjalanan mewah, tetapi perjalanan kere, makin hari kantong makin kering kerontak, bokek! Saya terus berharap dalam hati, semoga Dr. Franz akan mentraktir saya hehehe. Dan tahukah Anda? Ternyata do’a itu terkabul, setelah memutuskan mana kafe yang kami pilih, Dr. Franz bilang “ I will treat you”. Ibarat pribahasa Pucuk Dicinta Ulam Pun Tiba, sesuatu yang ditunggu-tungu tiba-tiba datang. Jos!

Oiy, para pemilik kafe disini sangat aktif dalam melakukan marketing kafe mereka, hampir setiap orang yang lewat mereka datangi dengan aktif menawarkan makanan di kafe mereka.

Dari tempat duduk kafe itu saya dapat dengan leluasa melihat senja bosphorus, sebuah pemandangan yang tentu sangat jarang saya lihat. Gelombang ombak laut diterpa sinar lampu menjadikan laut senja Bosphorus berkilap-kilap, perlahan pergerakan kapal mulai menurun. Area Bosphorus lebih semakin didominasi lalu lalang manusia.

Dr. Franz sangat ramah, Ia sangat mempersilahkan saya memesan apa saja, akhirnya saya memesan hidangan ikan dan sebuah minuman kaleng Jus jeruk, yang kemudian saya tahu seharga 29 TL lebih.

Sambil menikmati santap malam, kami berdiskusi banyak hal, pengalaman Dr. Franz menjelajah berbagai negara sekaligus background nya dalam bidang kesehatan menjadikannya kaya pengalaman budaya dan cerita negara lain. Diskusi itu tanpa tema, beliau melempar isu, saya bertanya, saya melempar isu, beliau bertanya, begitu seterusnya. Namun, ada beberapa poin penting yang akhirnya dapat simpulkan dari diskusi malam itu.

  • Alkohol (Bir) sedang jadi masalah besar di Eropa, sebagian besar sudah kecanduan dan hal itu berpengaruh ke Liver.
  • Rokok di Eropa di larang bagi anak dibawah 16, toko yg menjual kepada mereka di tutup.
  • Sex bebas di Eropa-Afrika mulai sangat terasa dampaknya, terutama dampak penyakit menularnya. bahkan menurut beliau, di Uganda 80% penduduknya HIV positif. Sex bebas itu perbuatan bodoh, masih menurut beliau.
  • Eropa dan Barat sedang terjangkit penyakit kronis : puas diri dan minim improvisasi. Merasa hebat.
Dr. Franz

Makan🙂

Obrolan panjang itu akhirnya selesai pukul 9 malam. Semilir angin laut dan kilap cahaya malam menjadi penutup diskusi panjang itu. Dari kafe di bawah Galata Bridge, kami menuju Galata Bridge. Subhanallah, selama beberapa hari di Istanbul, inilah pertama kali saya menikmati Istanbul di malam hari, bangunan dan gedung Istanbul bermandikan cahaya, dari atas Galata Bridge ini, Yenii Camii sepenuhnya berpendar warna-warni, sangat eksotis!

Berlatar Yenii Camii

Berlatar Yenii Camii

Indahnya Yeni Camii di Malam Hari

Indahnya Yeni Camii di Malam Hari

Kerlap Kerlip pelabuhan Galata

Kerlap Kerlip pelabuhan Galata

Esok pagi pagi Dr. Franz akan kembali ke negaranya, malam itu adalah malam terakhirnya di Istanbul. Setelah saling menyampaikan salam perpisahan, saya bergegas menuju salah satu bus di terminal Eminonu yang bersebelahan dengan Galata Bridge.

Momen tak terlupakan hari ini seolah semakin komplit dengan kejadian didepan Eyub Sultan Camiin, setelah turun dari bus dan berjalan beberapa langkah, seekor anjing menggongong dan mengejar saya, waduh, seketika itu juga saya langsung berlari. Unforgettable Moment.

One thought on “Hari 7 Turki : Jalan Kaki Eropa-Asia! (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s