Intelektual organik

Ada yang menarik dalam harian Kompas edisi Selasa lalu, dalam salah satu kolom Opininya, Rhenald Kasali menyampaikan sebuah diskusi menarik berjudul “Dalam Cengkraman Ilmu Dasar”. Rhenald yang selama ini dikenal sebagai salah satu pakar managemen Indonesia memulai opini nya dengan 2 paragraf yang sangat tegas “Setiap bangsa punya pilihan, melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air, melahirkan sarjana yang tahu kemana langkah dibawa atau sekedar membawa ijazah.

Tak termungkiri, negeri ini membutuhkan orang yang bisa membuat ketimbang pandai berdebat, bertindak dalam karya dibandingkan hanya protes. Tak banyak yang menyadari universitas hebat bukan hanya diukur dari jumlah publikasinya, melainkan juga dari jumlah paten dan impak pada komunitasnya

Secara keseluruhan artikel ini mengisahkan tentang ilmu dasar dan ilmu terapan, Rhenald mengkritik sistem pendidikan Indonesia yang sangat fokus pada teori tetapi minim penekanan praktek atau mementingkan dampak yang dihasilkan.

Dalam lingkup ITB, sejak beberapa beberapa tahun belakang muncul semangat baru dalam ranah kehidupan mahasiswa ITB yakni community development. Perlahan tapi pasti himpunan mulai membentuk bagian community development dalam struktur himpunannya, entah sebagai divisi, tim, tim ad hoc atau bahkan tanpa struktur.

Semangat community development ini pada dasarnya mirip dengan pendapat Rhenald diatas, bagaimana kampus dan dunia pendidikan dapat memberikan dampak pada komunitasnya. Selain itu sejak awal memang Hatta sudah menggaris bawahi, salah satu tujuan perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya.

Hal ini semakin ditekankan oleh Antonio Gramsci, seorang Intelektual asal Italia, Ia pernah mengemukakan bahwa semua orang pada dasarnya adalah intelektual. Tetapi tidak semua orang dapat menjalankan ‘peran intelektualnya’ ditengah-tengah masyarakat.

Bagaimana cara menjalankan peran intelektual di tengah masyarakat? Gramsci mengatakan hanya para intelektual organik, yakni intelektual yang tidak hanya paham teori namun juga bisa turun ke lapangan, ke masyarakatlah yang dapat memainkan peran intelektualitasnya ditengah masyarakat.

 
*entah catatan zaman kapan, diposkan saja, semoga jadi pengingat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s