Continuous Improvement

Hari hari ini entah mengapa saya sedang sangat tertarik untuk membaca fiqih, apapun, mulai fiqih thaharah hingga fiqih dakwah. Sebelumnya rasanya memang saya belum pernah sekalipun fokus membaca buku-buku fiqih, paling hanya sekilas atau sebagian, tidak selesai.

 
Hari hari ini saya merasa output begitu deras, begitu banyak harus bersuara, begitu banyak aktivitas, tetapi inputnya minim. Seperti perkataan seorang bijak, apa yang hendak diberi, jika tidak memiliki apa-apa.

 
Sering sekali ada perasaan bersalah. Didalam struktur organisasi kampus, saya memang pernah tercantum dalam jabatan formal di sebuah lembaga dakwah kampus, bahkan pernah tercatat menjadi salah satu calon ketuanya, sebuah konsekuensi logis, maka teman-teman sekitar menganggap saya lebih paham masalah agama. Antara sebuah beban atau sebuah tantangan, tergantung bagaimana menyikapinya.

 
“Den, kalo kriteria memilih pemimpin dalam islam bagaimana ya?”

“Den, hukumnya ini bagaimana ya?”

 

Ia, saya merasa bersalah, karena sering kali atau bahkan hampir semua tidak bisa saya jawab dengan baik. Karena kurangnya ilmu.

Selain itu, saya ingin kembali mengingat mengingat bagaimana fiqih mengatur aktivitas-aktivitas sehari hari saya, seperti thaharah dan shalat.

Dalam bukunya tentang Sedekah, Ustadz Yusuf Mansur menggambarkan terdapat perbedaan antara seseorang yang melakukan seuatu karena paham ilmunya dan tidak. Ilmu yang dimaksud disini bukan hanya tentang bagaimana tata cara melakukan kegiatan (amal) tersebut, tetapi lebih jauh tentang reward (pahala) yang Allah janjikan. Yusuf Mansur menjelaskan, seseorang yang bersedah karena paham ilmunya, suatu saat ketika Ia mendapatkan rejeki baik itu yang memang sudah jalannya atau rejeki yang tidak disangka-sangka, Ia akan mengaitkannya dengan sedekah yang Ia lakukan “Oh, ini gara-gara gue sedekah kemaren, Alhamdulillah”

 

Dampaknya, akan ada keinginan kuat untuk kembali bersedekah ”Sedekah lagi ah, buka jalan rejeki, kan janji Allah begitu”. Sederhana, tetapi bermakna.

 

Tidak ada kata terlambat untuk kembali belajar, tidak akan kata terlambat untuk kembali membaca, seperti tulisan di sudut kamar itu

The time for action is now. It’s never too late to do something” (Carl Standurg)

3 thoughts on “Continuous Improvement

  1. Terimakasih, (lagi-lagi) kamu mengajarkan banyak hal. Salah satunya lewat tulisan ini :’)
    Sebuah pengingatan yang mahal.

  2. ~~Dampaknya, akan ada keinginan kuat untuk kembali bersedekah ”Sedekah lagi ah, buka jalan rejeki, kan janji Allah begitu”. Sederhana, tetapi bermakna.~~

    tentang niat yang disertai dengan harapan balasan dunia ada pembahasannya lagi kang ehe, ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s