Karena Terima Kasih Saja Tidak Cukup

Satu hari kemarin hampir sepenuhnya saya habiskan dengan membaca sebuah novel, Bumi Cinta, itulah tulisan besar yang terpampang di cover novel itu. Habiburahman Elshirazy adalah sang maestronya.

Sebentar, jangan langsung terpaku dengan judul itu, ini bukan novel galau..hehe lebih tepatnya, bagaimana Anda menyikapinya saja. Setelah sekian lama berkutat pada bacaan seputar energi dan politik. Entah, mengapa akhirnya saya tertarik menyentuh kembali novel, kembali mengasah jiwa dan sastra.

Seperti pada novel lainnya, Kang Abik -begitu Habiburahman biasa dipanggil- selalu mahir menyisipkan beragam pengetahuan dalam alur cerita karyanya, tidak saja tentang islam, bahkan karena plot utama tempat pada Bumi Cinta ini adalah di Rusia, Ia terkadang menyisipkan sejarah Rusia:  kontemporer hingga sejarah ketika masih berstatus Uni Soviet; Marx, Lenin, Stalin ada didalamnya.

Ada satu bagian yang ingin saya ceritakan pada tulisan ini, yakni pada saat Imam Hasan memberikan khutbah Jum’at jelang pernikahan Yelena dan Devid, begini isinya…

“Termasuk dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah adalah perbuatan zina. Para nabi dan rasul murka pada orang-orang yang melakukan perbuatan keji itu. Alkisah, pada umat terdahulu ada seorang perempuan yang menjadikan zina sebagai profesinya. Dia mendapatkan uang dengan melacurkan dirinya. Kecantikannya yang menawan sangat terkenal dan membuta dirinya terkenal ke pelbagai daerah. Banyak lelaki yang tergila-gila padanya dan ingin menikmati kecantikannya. Di saat yang sama ada seorang pemuda ahli ibadah. Pemuda itu juga mendengar pesona perempuan itu dan hati pemuda itu juga condong kepadanya. Pemuda itu juga berangan-angan ingin menikmati kecantikan perempuan itu. Karena bayaran perempuan itu sangat mahal, pemuda itu bekerja keras siang malam demi mendapatkan uang agar nanti bisa membayar perempuan itu. Setelah berbulan-bulan bekerja pemuda itu mendapatkan uang yang cukup banyak. Uang yang cukup untuk membayar kecantikan perempuan itu. Pemuda itu lalu mendatangi perempuan itu.

“tentu saja perempuan itu senang didatangi pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tampan. Ia merasa bangga bahwa kecantikan dan pesona dirinya ternyata mampu mengalahkan kezuhudan dan keteguhan iman seorang pemuda ahli ibadah. Ia menyambut pemuda itu dengan sebaik-baiknya sambutan. Ketika mereka berdua sudah berada disebuah ruang yang sangat nyaman. Jendela telah ditutup dan pintu telah terkunci rapat, dan pemuda itu bisa melakukan apa yang telah dilakukan banyak lelaki pada perempuan itu, tiba-tiba pemuda itu teringat kepada Allah. Bahwa Allah melihatnya. Bahwa Allah memurkai perbuatan maksiat yang sedang dan yang akan dilakukannya. Wajahnya tiba-tiba pucat. Ia sangat takut kepada Allah. Perempuan itu kaget melihat wajah pemuda itu tiba-tiba pucat pasi seperti dialiri darah. Perempuan itu menduga bahwa pemuda itu sangat gugup karena tdak pernah memiliki pengalaman berduaan dengan seorang perempuan. Maka perempuan itu berusaha menenangkan pemuda itu.

“Akan tetapi justru pemuda itu semakin pucat, tubuhnya menggigil dan bergetar hebat. Dengan terbata-bata pemuda itu berkata kepada perempuan itu ‘ini, dikantong ini ada ratusan dinar, yang aku kumpulkan dengan bekerja mati-matian berbulan-bulan. Aku bekerja keras demi bisa menikmati dirimu. Kini aku sudah ada dihadapanmu, kalau aku mau aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Akan tetapi jika aku melakukannya maka Allah akan murka kepadaku, dan Allah pasti menyiapkan nerakanya yang menyala-nyala untukku. Aku takut kepada Allah. Aku tidak mau menikmati kenikmatan sesaat yang semu akan menghancurkan kenikmatan abadi disurganya Allah. Ini ambillah uang ini dan biarkan aku meninggalkan tempat ini sebelum Allah murka dan mencabut nyawaku dalam keadaan syu’ul khatimah’

Selanjutnya dikisahkan sang pemuda merasa sangat berdosa, Ia menyesal menghabiskan banyak waktunya demi sebuah dosa besar, mengumpulkan uang demi melakukan perbuatan zina. Setelah peristiwa itu tiap waktunya dihabiskan untuk bertobat kepada Allah, hingga akhirnya ia pun meninggal dunia.

Sementara itu sang wanita akhirnya karena sikap pemuda itu, mulai menyadari bahwa apa yang selama ini ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar, perlahan ia mulai menata diri dan bertobat. Hingga akhirnya ia pun berniat untuk menemui pemuda itu dan mengajaknya menikah, karena ia menganggap pemuda itulah yang telah memberikan hidayah kepadanya. Namun, sayangnya sang pemuda sudah meninggal.

Setiap dari kita pernah merasakan titik terkelam, jahiliyah. Namun Allah kemudian memberikan hidayah , entah dari siapa jalan hidayah itu dititipkan. Pun begitu dengan saya.

Tulisan ini hadir karena sebuah pesan siang ini “Terima Kasih atas persahabatan dan kehadiranmu selama ini…”. Justru sejujurnya saya yang harus berterima kasih, tanpa ia sadari, ada perubahan besar pada diri saya, sejak kedatangannya.

Karena buat saya, ucapan terima kasih padamu jelas tidak cukup, maka biarkan saya mendoakanmu setiap bada shalat, semoga kau terus berproses dalam islam sahabat.

*Pasti Anda merasa ada bagian yang aneh, terasa tidak bersambung, entah, yang penting saya ingin segera mempostingnya, meskipun belum sempurna🙂

 Tulisan lama

-Ba’da Jumat, Koridor Timur Salman-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s