Adu Kuat Visi-Misi Energi Capres : (1) Tantangan Sektor Energi

“Gerak adalah sumber kehidupan dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang” Soekarno

 

Salah satu sektor yang harus menjadi perhatian bagi calon presiden periode 2014-2019 adalah sektor energi. Inilah sektor sensitif yang dalam keberjalanan bangsa ini banyak menyita perhatian, menimbulkan pro-kontra dan menghabiskan energi bangsa. Dalam struktur APBN, subsidi energi khususnya BBM selalu membuat siapapun yang membacanya mengernyitkan dahi. Untuk tahun 2014 saja anggaran subsidi BBM dialokasikan sebesar Rp 210,7 triliun, dengan asumsi kurs Rp 10.500 per dolar AS. Sementara hari-hari ini kurs dollar terus stabil di kisar 11.500, dapat dibayangkan bagaimana menggelembungnnya anggaran subsidi BBM ini. Belum lagi ditambah subsidi listrik sebesar Rp 71,364 triliun. Dengan asumsi kurs 10.500 Kurang lebih keduanya menghabiskan 17% APBN 2014 Indonesia, dengan kondisi riil kurs 11.500 bisa dibayangkan berapa anggaran untuk subsidi energi ini.

Subsidi Energisumber : satunegeri.com

 

Tantangan Sektor Energi

5 tahun masa kepemimpinan presiden mendatang dihadapkan pada masalah sektor energi yang tidak sedikit, belum lagi melihat fakta bahwa sektor energi memiliki karakter long-term effect, artinya keputusan yang diambil tahun ini masih (mungkin) akan berdampak pada kehidupan anak cucu di masa datang. Kontrak Freeport, Kontrak LNG Tangguh adalah 2 contohnya.

IsuDalam sektor migas, Revisi UU Migas, Subsidi BBM, Pembangunan Kilang Minyak, Pengembangan-Pembangunan infrastruktur gas, Nasionalisasi Blok Migas dan Renegosiasi LNG Tangguh adalah beberapa isu yang harus menjadi concern 5 tahun mendatang. Setelah terkatung-katung dan tak jelas nasibnya sejak diagendakan dalam Prolegnas 2010, di era kepemimpinan presiden baru revisi UU migas masuk taraf sangat urgent untuk diselesaikan, inilah inti dari permasalahan industri migas selama ini. Setidaknya 2 hal yang harus dimasukkan dalam konten UU Migas baru, yakni pengutamaan BUMN dalam pengelolaan blok migas dan mengubah sistem bisnis yang selama ini B to G (Business to Goverment) menjadi B to B (Business to Business). Dalam hal subsidi BBM, konsep tepat sasaran dan berkeadilan harus benar-benar diterapkan. Data tahun 2010 menunjukkan tingkat penyerapan BBM adalah sebagai berikut, sektor transportasi 46%, pembangkit 20%, rumah tangga 13%, industri 12%, sektor komersial 7% , sisanya sektor lainnya. Dari 46% sektor transportasi mobil pribadi mengambil porsi 50%, sementara sepeda motor dan angkutan umum masing-masing hanya 40% dan 7%. Siapakah pemilik mobil pribadi? Sudahkah subsidi BBM tepat sasaran?. Dengan tingkat konsumsi BBM perhari 1.5 juta barel, kapasitas 6 kilang yang selama ini kita miliki hanya mampu mengolah minyak mentah sebanyak 800ribu barel, hal ini seolah memang sejak awal kita berniat menjadi importir minyak. Belum lagi fakta bahwa kondisi kilang indonesia sudah uzur, pembangunan kilang terakhir kali dilakukan pada tahun 1994, yakni Kilang Bontang. Itikad baik pemerintahan SBY diakhir kepengurusannya untuk terus mencari investor untuk mendorong pembangunan kilang minyak harus diteruskan dan ditutup dengan happy ending oleh pemerintahan 2014-2019.

Pengembangan-Pembangunan infrastruktur gas. Data kementrian ESDM menunjukkan Indonesia memiliki cadangan Gas sebesar 188 TSCF, dengan tingkat produksi pertahunnya sebesar 2.87 TSCF, sedangkan konsumsi perhari hanya 8.2 BSCFD dan sisanya diekspor. Selama ini yang menjadi masalah dalam pengembangan dan penggunaan gas dalam berbagai sektor adalah Infrastruktur distribusi dan transmisi. Siapapun Presiden 2014-2019 nanti memiliki andil penting untuk mengembangkan infrastruktur gas ini.

Dua isu dalam sektor migas yang tidak kalah penting adalah Nasionalisasi Blok Migas dan Renegosiasi LNG Tangguh. Tercatat setidaknya 24 Blok Migas akan habis masa kontraknya terhitung periode 2015 hingga 2021. Pemerintahan selanjutnya harus memastikan memberikan previlege kepada Pertamina sebagai BUMN. Sementara dalam hal Renegosiasi LNG Tangguh, tim renegosiasi yang sudah bekerja harus terus didukung pemerintahan baru untuk mendapatkan harga gas yang sesuai, selama ini Indonesia terus dirugikan dengan harga gas yang flat 3.5 MMBTU sementara harga gas pasaran sudah menginjak 2 digit.

Dalam sektor pertambangan, 3 isu yang harus menjadi perhatian pemerintahan mendatang adalah isu turunan dari hadirnya UU Minerba 2009 lalu, yakni : Hilirisasi, Renegosiasi, dan Kontrak Freeport. Dalam hal hilirisasi, hingga waktu deadline 2017 nanti pemerintah harus memastikan industri siap untuk tidak mengekspor raw material atau dengan kata lain, industri smelter dalam negeri sudah terbangun dan siap untuk mengolah raw material tersebut. Sementara itu, Renegosiasi adalah amanat UU Minerba, segala kontrak pertambangan yang sebelumnya mengacu pada UU lama (11 tahun 1967) harus disesuaikan dengan aturan UU baru (UU 4 tahun 2009). Dalam hal ini presiden akhirnya membentuk tim Renegosiasi berdasarkan Kepres No 3/2012, seharusnya tugas tim renegosiasi sesuai Kepres telah berakhir Desember 2013, tetapi hingga sekarang 6 poin renegosiasi belum jelas bagaimana keputusannya. Salah satu agenda penting lain dalam sektor tambang adalah Kontrak Freeport, sejak menandatangani kontrak pada tahun 1967, 2021 nanti adalah waktu dimana kontrak Freeport akan habis. Faktanya memang saat ini BUMN kita belum siap, maka yang bisa dilakukan pemerintah adalah memaksimalkan poin divestasi saham dan royalti yang selama ini baru 1% dari laba bersih. Pemerintah harus memaksimalkan bargaining position di fase menjelang habis masa kontrak ini.

Pengembangan Energi Terbarukan. Sektor lain yang sepertinya satu lingkaran dengan masalah subsidi BBM adalah pengembangan energi terbarukan, kedua masalah ini seperti lingkaran setan, selama ada subsidi BBM maka cukup sulit mengembangkan energi terbarukan karena harga pasaran yang kalah saing dengan BBM bersubsidi. Sementara jika energi terbarukan tidak segera dikembangkan, kebergantungan terhadap BBM subsidi akan semakin menjadi dan ini tentu tidak baik bagi ketahanan energi.

 

Bagaimanakah visi-misi-program capres terhadap tantangan sektor energi ini?

Simak ditulisan selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s