renung

Wajahnya sembab, tampang sayu, ia jelas tidak dalam kondisi terbaiknya. Sinusitis katanya. 1 jam lagi waktu akan bergeres, pergantian hari. Udara kota yang dikelilingi bukit dan gunung ini kian menurun, ditambah hujan sore tadi.
Ditengah perjalanan pulang, nomor itu 2 kali menelpon, saya tidak kenal. Hampir semua kontak lama hilang sejak HP rusak beberapa waktu lalu. Cek history, ternyata ada. Cek sms. Oh beliau. Salah satu kaka kelas.

 
Tut tut “halo assalamu’alaikum

waalaikumussalam, den lagi dimana

di kontrakan kang, tadi lagi di motor

bisa anter akang ke rumah sakit, udah gak ada angkot

 

Beberapa tahun ini sejak mengenalnya, saya banyak belajar darinya, terutama bagaimana kontribusi tanpa batasnya dalam bidang sosial masyarakat. Malam ini sejenak bertemu kembali dengannya, membuat saya malu. Malu dengan fokus saya akhir-akhir ini. Sepertinya mayoritas kegiatan saya lebih fokus pada titik “ke-aku-an”. Memang tidak salah dan kalau itu target yang baik, mengapa tidak? Tapi jadi seolah menghilangkan keajiban moral kita sebagai orang yang diberi berbagai kenikmatan.

-merenung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s