[Short Class Migas] Geopolitik Migas dan Era Migas Non-Konvensional di Indonesia

 

 

Harga Minyak Dunia terus turun, aneh, OPEC sebagai kartel minyak dunia yang selama ini menyuplai 30 Juta Barrel perharinya (dari 90 Juta Barrel kebutuhan dunia) tidak memutuskan melakukan pemotongan produksi, sebagai maka kebijakan-kebijakan mereka sebelumnya.

Oke, begini polanya. Jika meninjau segi historisnya, OPEC adalah organisasi yang dibentuk untuk melawan seven sisters pada masanya. OPEC didirikan untuk meningkatkan bargaining position para eksportir minyak dunia. Dalam hal pergolakan harga minyak dunia. Biasanya, ketika harga minyak dunia turun, OPEC buru-buru akan melakukan rapat darurat, diluar rapat rutin mereka, apa tujuan rapat daruratnya? Memangkas produksi. Simpel saja, produksi turun dan harga minyak dunia akan kembali naik, jelas mereka sangat diuntungkan dengan naiknya harga ini.

Namun dalam pergolakan harga minyak dunia kali ini, rapat darurat mereka menghasilkan hasil berbeda. Arab Saudi sebagai penyuplai 9 juta barrel setiap harinya kekeuh tidak ingin memangkas produksi.
Salah satu penyebab harga minyak dunia turun adalah melimpahnya minyak dipasaran, penyebabnya? Berkembangnya Shale Oil US. Shale oil adalah salah satu dari beberapa jenis unconventional energy yang saat ini sedang berkembang, agak berbeda dengan dengan minyak mentah yang selama ini berkembang, untuk mengembangkan Shale oil dibutukan teknologi yang dikenal sebagai fracturing atau horizontal drilling. Penggunaan teknologi yang tergolong masih baru menyebabkan pengembang shale oil masih tergolong lebih mahal dibandingkan minyak bumi pada umumnya yang tergolong conventional energy.

US selama ini adalah importir minyak bumi terbesar, berkembangnya shale oil menyebabkan menurunnya tingkat impor mereka juga menyebabkan melimpahnya minyak mentah dipasaran.

Sekali lagi, kenapa OPEC (terutama arab saudi) ngotot untuk tidak memotong produksi mereka, seperti kebijakan mereka sebelum-sebelumnya ketika harga minyak dunia turun. Arab saudi jelas punya kepentingan, untuk memproduksi shale oil, dibutukan biaya produksi sekitar $50-60/Barrel, sementara produksi minyak mentah mereka cukup $5-10/Barrell. Dengan menekan harga minyak di kisaran seperti hari ini, mereka ingin menekan pengembangan Shale oil agar. Puk, satu tepuk, tiga lalat, kebijakan ini menghasilkan tiga hal : Shale oil tidak berkembang, di masa depan pasar minyak mereka aman dan teknologi fracturing dan horizontal drilling tidak berkembang.

Tapi kebijakan ini bukan tanpa konsekuensi? Tentu pendapatan mereka berkurang. Belum lagi bagaimana nasib negara-negara OPEC yang selama ini menggantungkan pendapatan mereka dnegan minyak? Bisakah mereka bertahan dengan harga minyak sekarang?

Well, dimanakah posisi indonesia dalam geopolitik minyak hari ini? terus menjadi penonton? Dengan cadangan yang hanya 3,7 Miliar Barrel (Dibandingkan US dan Venezuela yang masing-masing 270 dan 290 Miliar Barell) haruskah Indonesia ikut turun dalam urusan geopolitik minyak ini?
atau mengapa kita tidak lebih fokus mengembangkan EBT kita?

Mengutip penyataan @zahrasodik. So, sederhana aja, temukan jawabannya dalam “Short Class Migas: Geopolitik Migas dan Era Migas Non-Konvensional di Indonesia”, kerjasama kementrian ESDM Kabinet KM-ITB dan Divisi Kajian Energi HMTM PATRA ITB di hari Sabtu, 31 Januari 2015, di ruang 9232, GKU Timur.

Semua pembicara sudah konfirmasi kehadiran, dan saya jamin worth it!

1. WIdhayawan : Staf Ahli Menteri ESDM
2. Ir. Pria Indirasarjana : Penulis Buku “2020 Indonesia dalam Bencana Krisis Minyak Nasional” dan “Minyak Utntuk Presiden”
2. John S. Karamoy : The Oil Man, ex-Komisaris Medco
4. Prof. Doddy Abdassah : Guru Besar Teknik Perminyakan ITB

Datang tepat waktu (13.00), karena setiap diskusi publik energi, kursi selalu penuh 5 sd 10 menit sebelum acara dimulai, so jangan sampai kamu jadi orang yang terpaksa harus menyingkir karena ga kebagian kursi, kecuali kalau mau ‘ngemper’ :)).

Diskusi ini gratis, dan ada konsumsinya 🙂
terbuka untuk siapapun, tua muda, mahasiswa/ non mahasiswa

short class migas patra

2 thoughts on “[Short Class Migas] Geopolitik Migas dan Era Migas Non-Konvensional di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s