Untuk teman teman ‘seperjuangan’ (2)

Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, saya ingat sekali, setelah insiden jatuh di bulan April itu, akhirnya hari itu saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke Dokter Ortopedi RS. Boromeus. Dan sejak hari itu akhirnya saya akrab dengan istilah Orthopedi, you are my friend!

 

Sempurna, 5 jam menunggu, 15 menit diperiksa, dokter memvonis saya positif Rupthur ACL, bahkan dokter langsung membuatkan surat pengantar untuk SCAN MRI. Berapa biaya SCAN MRI? 4 juta. Jelas bukan angka yang kecil, setelah berkonsultasi dengan ayah akhirnya saya tidak melanjutkan periksa di RS. Boromeus, lebih baik mengurus BPJS di Jakarta.

 

Hari-hari setelahnya adalah hari hari yang tidak menyenangkan, saya memutuskan total berhenti futsal, olahraga yang sangat saya sukai. Mengurus BPJS tidak semudah yang dibayangkan, ini bagian yang akan memakan waktu paling lama, pernah suatu ketika dalam sehari saya harus bolak-balik 2 kali dari rumah saya di Jakarta Barat ke RS. Persahabatan di Jakarta Timur, nikmati. Rumusnya menjadi sangat sederhana, es asa ba aba re, SABAR!

 

Itu modal dasar para pengguna BPJS. Dengan BPJS, Anda harus meminta rekomendasi puskesmas lalu RSUD baru ke RS yang dituju. Keliatannya mudah? Saya baru sadar, selain pasar dan terminal, tempat ketiga yang sudah ramai sejak pagi itu puskesmas dan rumah sakit. Dan sayangnya, mereka hanya beroperasi optimal sampai pukul 14.00. Artinya dalam satu hari Anda hanya mendapat satu antrian, ada satu kesalahan, maka kembali keesokan harinya. Ehm, ya, Jakarta-bandung gak jauh-jauh banget. Nikmati.

 

Mendapatkan rujukan dari RSUD Cengkareng, langkah selanjutnya Anda langsung menuju RS yang Anda tuju, dalam hal saya yakni RSCM Jakarta. Bagi pengguna BPJS, setiap memeriksakan diri, sebelumnya Anda harus menuju bagian BPJS terlebih dahulu, baru kemudian menuju Poli yang dituju, yakni Poli Orthopedi.

 

Ini catatannya, Anda harus mengikuti ritme para pekerja kantor, berangkat sepagi mungkin! Jam 7 pagi bahkan antrian di Poli Orthopedi RSCM sudah cukup banyak, sayangnya, tidak bisa langsung di periksa, karena sang Dokter biasanya baru datang jam 09.00-09.30. waktu paling lama dalam hal ini adalah waktu menunggu. Literally.

 

Bagi penderita Orthopedi, tidak ujug-ujug sekali periksa Anda akan mendapatkan kepastian operasi dari Dokter. Jika gejala Anda jelas Orthopedi, Anda akan diminta untuk scan MRI. Prosedurnya, sama, ke BPJS, baru minta jadwal scan ke bagian radiologi. Oiy, kuatkan diri Anda, kadang ketika Anda datang ke Poli Orthopedi, Anda tidak akan diperiksa, karena dokter kepalanya tidak ada, di Poli Orthopedi RSCM, dokter kepalanya hanya ada hari senin itupun Anda tidak tahu dia akan datang jam berapa dan kadang dia suka tidak datang dan juga bahkan susternya tidak bisa memastikan, jadi…….. *sabar*

Pernah suatu ketika saya datang bukan hari senin, lalu saya diminta datang lagi hari senin, saat hari senin saya datang aga siang (jam 11), ternyata sang suster berkata “wah, dokternya sudah tidak ada mas, harusnya mas datang lebih pagi” *gigit tembok*, senin berikutnya saya datang lagi, setelahnya mengantri *lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa*, masuk ke ruang poli “Oh, mau ketemu Dokter itu mas, yah, hari ini dokternya gak dateng mas” *itu rasanyaaaa*.

“mbak saya dari Bandung mbak” *jedotin kepala*

 

Setelah *akhirnya* bertemu sang dokter Anda akan dijadwalkan untuk operasi, beruntung jika tidak mengantri Anda akan segera operasi, jika mengantri, maka, kembali bersabar.

 

Episode sabar menyabar belum selesai, masih panjang. Sebelum operasi ada beberapa tes yang harus Anda jalani : cek darah, cek penyakit dalam, rontgen dada, rontgen lutut, anastesi, rekam jantung.

 

Jadwal optimal RSCM hanya sampai jam 2, dokter biasanya datang jam 9. Jadi dalam satu hari biasanya Anda hanya akan bisa untuk satu kali tes, cek darah misalnya, kecuali Anda siap naik turun tangga, lantai 1 dan 3, sambil menunggu rontgen, lebih baik Anda ke bagian Lab untuk cek darah.

 

Segala tes persiapan itu hanya berlaku 1-2 minggu, artinya jika Anda batal operasi, Anda harus kembali menjalankan tes-tes itu kemudian hari, santai kawan, saya sudah 2 kali batal. Nikmati.

Saya mulai masuk RSCM Oktober tahun lalu, mempersiapkan BPJSnya bahkan satu-2 bulan sebelumnya dan sekarang saya masih terus proses menuju operasi, jadi sabar dan nikmati. Fyi, selama disana saya banyak mendengar ibu-ibu dan pasien BPJS lain yang sudah bolak-balik RSCM lebih lama lagi, kadang kita (saya) perlu sedikit bersyukur. Alhamdulillah.

 

Well, begitulah kurang lebih segala hal tentang road to Operasi ACL, dulu saya sangat semangat mempersiapkannya, hari ini saya sedang berpikir untuk menundanya. Saya sedang mencari jalan tengahnya, semoga lutut ini baik-baik saja.

Semoga bermanfaat para pejuang🙂

3 thoughts on “Untuk teman teman ‘seperjuangan’ (2)

  1. Pingback: Untuk teman teman ‘seperjuangan’: segerakan! (3) | Making a Giant Leap

  2. Yth Denny Reza Kamarullah, semoga cepat sembuh nih Kang (atau sudah sembuh). Pasien rawat jalan RSCM sehari ada 3.000-4.000 pasien (10%-nya adalah pasien Bedah (Orthopedi di bawah Poliklinik Bedah URJT). Dokternya sih banyak, namun yang bisa memutuskan suatu tindakan kadang hanya beberapa saja. Salam Sehat Selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s