Dutch Disease, Penyakit Tambang Yang Harus Dilawan Pemda Sumbawa Barat dan PT Newmont Nusa Tenggara

“Pak, masjidnya dimana ya?”
“Hoo, ini bareng saya saja, saya juga mau ke masjid”

Suatu shubuh di Sumbawa Barat, hari itu hari ke-4 dalam pelaksanaan program Bootcamp Newmont, malam tadi kami tiba dan menginap di rumah Kades Desa Sekongkang. Setelah sampai di masjid dan selesai melaksanakan shalat shubuh berjamaah di salah satu masjid Sekongkang, kami membuka forum diskusi bersama para jamaah laki-laki. Ingin mengetahui lebih dalam bagaimana dampak keberadaan Newmont terhadap desa-desa sekitarnya.

Namanya Pak Abidin, imam shalat shubuh yang akhirnya memimpin forum pagi itu. Beliau juga merupakan anggota DPRD Sumbawa Barat –kami baru tahu kemudian- dan beliau juga yang tadi membonceng saya sampai ke masjid, suatu kebetulan yang luar biasa!

Pagi itu forum begitu hangat, membincangkan banyak hal. Pada dasarnya keberadaan Newmont memang sangat membantu terbangunnya daerah sekitarnya, khususnya 3 desa yang berada dalam lingkar tambang (Sekongkang, Jereweh dan Maluk). Pak Abidin bercerita bagaimana terpencil dan sepinya Desa Sekongkang ini sebelum ada Newmont, “Dulu untuk sampai ke Sekongkang harus pake Kuda, coba kalian bayangkan” beliau menjelaskan dengan antusiasny.

Infrastruktur jalan dibangun, beragam fasilitas publik turut dalam andil Newmont dalam pembangunannnya. Namun, ada sebuah permasalahan besar, keberadaan sebuah ‘harta karun’ bernama Newmont berdampak dua hal: permasalahan sosial dan ketergantungan. Tulisan ini akan lebih membahas poin keduanya, ketergantungan.

Dialah Roderick G Eggert, seorang praktisi ekonomi mineral dari Colorado School of Mines, jauh-jauh hari Ia sudah menuliskannya dalam papernya yang berjudul Mining and Economic Sustainability : National Economies and Local Communities. Salah satu bagian dari paper itu, Ia mempertanyakan “Is Mining A curse?” Apakah industri tambang adalah kutukan?”

Secara logika sederhana, industri tambang seharusnya adalah sebuah berkah bagi negara yang memilikinya, karena faktanya tidak semua negara dikaruniai kekayaan sumber daya mineral yang melimpah, Indonesia salah satu yang diberi kekayaan itu. Namun, nyatanya kondisi aktual hari ini justru berkata lain, banyak negara yang memiliki kekayaan sumber daya mineral mineral justru masuk dalam kategori negara miskin atau dapat dikatakan negara ini belum dapat mengkapitalisasikan kekayaan sumberdaya mineral untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya contohnya : Indonesia, Afrika Selatan, Timor Leste dll.

tambang-batubara

 

 

Ada 3 faktor yang menyebabkan hal itu, salah satunya menurut Roderick G Eggert adalah Dutch Disease. Terminologi ini pertama kali diperkenalkan oleh The Economist pada tahun 1997 untuk menjelaskan penurunan di sektor industri manufaktur di Belanda setelah penemuan sumber gas alam besar di tahun 1959. Dutch Disease diartikan sebagai penyakit kebergantungan yang terlalu berlebihan terhadap sumber daya alam dan mineral (dalam hal ini kita ambil kasus sumber daya mineral), seluruh kegiatan ekonominya berpusat pada industri mineral, sehingga ekonomi negara/daerah tersebut sangat bergantung pada sumber daya alam dan mineral. Tentu ini sangat riskan, karena harga komoditas tambang di pasaran global sangat fluktuatif. Sekali harga komoditas tambang lesuh, maka bisa dipastikan harcurlah ekonomi negara tersebut. Belum lagi faktor resiko teknologi, ekonomi, politik yang senantiasa dapat mengancam keberjalanan industri ini.

Fenomena Shutdown Newmont

Tahun 2009 Indonesia mengeluarkan UU Baru, UU No. 4 Tahun 2009 atau akrab disebut UU Minerba. Konten UU ini salah satunya mewajibkan perusahan tambang untuk melakukan pengolahan bahan tambang sampai kadar tertentu di dalam negeri. Dalam Peraturan Menteri ESDM, batas maksimal pengolahan bahan galian ini adalah tahun 2014. Namun tahun 2014 infrastruktur pengolahan nihil terbangun.

Tahun 2014 melalui Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri ESDM yang baru, Pemerintah memberikan sedikit ‘obat penenang’ dengan melonggarkan batas kadar dari pengolahanan bahan galian. Namun, ya begitulah sunnatullah dari ‘obat penenang’, hanya sementara, adanya pajak progresif dibalik ‘obat penenang’ itu tidak diterima industri, terlalu memberatkan, begitu argumennya.
Newmont salah satu yang keberatan dengan adanya pajak progresif itu, mau tidak mau dampaknya Newmont berhenti operasi, karena konsentrat yang ada sudah menumpuk dan tidak bisa diekspor. Jadilah dipertengah 2014 Newmont berhenti operasi.

Disinilah Dutch Disease menunjukkan jatidirinya

 

“Apa tidak ada langkah penyiapan agar masyarakat tidak terlalu tergantung dengan Newmont pak?”

“Ehm, Kita belajar mas, waktu Newmont berhenti operasi kemarin, 3 desa ini jadi desa mati”

“Masyarakat jadi sadar, suatu saat Newmont akan berhenti, tidak selamanya kita bisa bergantung dengan Newmont.

“Bayangkan mas, sebelum ada kejadian berhenti operasi kemarin, masyarakat sangat tergantung dengan Newmont, bahkan banyak sarjana daerah sini yang pulang-pulang minta kerja ke Newmont, putra daerah katanya, punya hak”

“Kita jadi desa mati kemarin, masyarakat mulai sadar dan akhirnya mulai memikirkan persiapan kedepannya”

Begitu Pak Abidin menjelaskan, ketika kami bertanya tentang berhentinya operasi Newmont di pertengah 2014 lalu, salah satu fenomena yang mengerikan, ada sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar di daerah ini.
Dutsch Disease menunjukkan jati dirinya ketika Newmont berhenti beroperasi, daerah ini (Sekongkang, Maluk dan Jereweh) menjadi daerah mati.

 

Solusi Kedepannya
Kita sepakat, pembangunan adalah tugas pemerintah, bukan tugas perusahaan. Dalam hal daerah maka pemerintah daerah memainkan fungsi utama, bukankah itu inti dari otonomi daerah?

Tapi, kemudian kita juga mengenal konsep Triple Helix, konsep kolaborasi antara industri, goverment and kampus. Dalam hal Kabupaten Sumbawa Barat atau 3 desa lingkar tambang: Sekongkang, Maluk dan jereweh, tentu Newmont memiliki kewajiban untuk memanfaatkan fungsi Corporate Sosial Responsibility. Melakukan kegiatan sosial di daerah ini.

Triple Helix Konsep

Ini mungkin pekerjaan rumah bagi Industri tambang, memastikan bahwa dana CSR mereka benar-benar dimanfaatkan untuk kegiatan sosial yang berkelanjutan, kenapa? Karena suatu saat industri tambang akan usai, jika konsep CSR yang dibangun adalah “yang penting uang keluar” maka seolah sedang memberikan obat penenang kepada masyarakat dengan efek samping yang sangat besar ketika obat penenang itu habis.
Mengikuti kegiatan Bootcamp Newmont, menurut saya, kegiatan CSR bisa dimanfaatkan untuk fokus pada 2 hal: Ekonomi dan Pendidikan. Dalam hal ekonomi, wadah-wadah seperti Bank Sampah Lakmus dan Pengolahan Coconoet Serabut Kelapa yang sudah dibangun Newmont bisa menjadi embrio atau prototype, intinya bagaimana membangun ‘lampu-lampu kecil kegiatan ekonomi’ baru.

Bank Sampah Lakmus yang diinisiasi PT. Newmont

Bank Sampah Lakmus yang diinisiasi PT. Newmont

Bank Sampah Lakmus yang diinisiasi PT. Newmont (2)

Bank Sampah Lakmus yang diinisiasi PT. Newmont (2)

Pembuatan Coconet Serabut Kelapa sebagai salah satu Ekonomi Kreatif Pemberdayaan Masyarakat oleh PT.Newmont

Pembuatan Coconet Serabut Kelapa sebagai salah satu Ekonomi Kreatif Pemberdayaan Masyarakat oleh PT.Newmont

Aktivitas MAsyarakat di PT. Ridho Bersama rumah pembuatan coconet

Aktivitas Masyarakat di PT. Ridho Bersama rumah pembuatan coconet

Tentu ini bukan tugas Newmont saja, berkolaborasi dengan kalangan akademis untuk meracik pola-pola yang cocok seharusnya bisa dilakukan dan tentu pemerintah daerah seharusnya yang berperan utama disini.

Konsep yang dijalankan Pemerintah Kota Bandung seharusnya bisa menjadi contoh, bagaimana pemkot menjemput sumber-sumber dana untuk membiayai pembangunan di Kota Bandung. Dalam hal Sumbawa Barat, bukankah Newmont sangat terbuka untuk itu, ya kan?
Poin kedua, pendidikan, dalam hal ini saya rasa kita akan sama-sama mengamini kata-kata bijak Nelson Mandela berikut.

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world

Edukasi, bagaimana masyarakat dan utamanya generasi penerus Sumbawa Barat bisa terus maju dalam hal pemikiran, karena dengan begitulah kedepannya mereka dapat mengurus dirinya sendiri. Metodenya, bisa beasiswa, pelatihan-pelatihan, training, banyak sekali.
Semoga kedepannya Dutch Disease ini bisa disadari lebih dini oleh semua pihak, yaitu: pemerintah, industri dan tentunya masyarakat itu sendiri, sehingga rencana penanggulanganya bisa lebih dini dibuat.

One thought on “Dutch Disease, Penyakit Tambang Yang Harus Dilawan Pemda Sumbawa Barat dan PT Newmont Nusa Tenggara

  1. Triple helix mudah dipahami sulit dilakukan, tipikal bahasan mahasiswa kak, teori emang selalu lebih mudah diucapkan hehe. ketika ego diantara dua dari tiga lebih tinggi memang dibutuhkan satu peran sebagai penengah. kalau tidak bhay aja semuanya hehe andil akademisi penting banget, loh. jadi usulan menyoal ‘penekanan pada aspek edukasi’ bisa jadi pertimbangan. good luck ya semoga bisa ke Buyat! doakan daku y sedang nyusun skripsi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s