Good Mining Practice, Reklamasi, Paska Tambang dan Oknum yang Merusak Sistem Tambang

 Suatu waktu coba kita datang dan mengobrol dengan sembarang orang di area- area publik, tanyakan pada mereka sebuah pertanyaan sederhana,

“Pak/bu, menurut bapak/ibu industri tambang itu bagaimana?”

Saya yakin perspektif bahwa tambang itu merusak lingkungan pasti akan disampaikan oleh mereka. Sebagai mahasiswa teknik pertambangan, selama 4 tahun ini saya belajar bagaimana sebenarnya industri tambang, melihat konsep dasar industri ini, melihat secara langsung perusahaan perusahaan tambang baik itu skala besar maupun kecil. Dari pengalaman 4 tahun ini, jika ditanya

“Den, tambang itu merusak ya?” saya akan jawab “ya, tambang itu merusak”, TAPI, dalam konsep yang diajarkan dan seharusnya dipatuhi industri, terdapat mekanisme untuk meminimalisir kerusakan-kerusakan itu.

 

Seperti sudah saya tuliskan dalam postingan sebelumnya, dalam papernya yang berjudul Mining and Economic Sustainability : National Economies and Local Communities Roderick G Eggert Seorang praktisi ekonomi mineral dari Colorado School of Mines menyatakan terdapat 3 faktor yang selama ini menyebabkan kekayaan Sumber Daya alam dan Mineral justru seolah menjadi kutukan bagi negara pemiliknya. Selain Dutch Disease (seperti sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya), dua faktor lainnya adalah pengaruh pasar eksternal dan  faktor kebijakan. Jika pada tulisan sebelumnya pembahasan kita adalah faktor dutch disease, pada tulisan ini yang akan kita bahas adalah faktor kebijakan.

Sebelumnya, kita kembali ke pertanyaan awal, kenapa industri tambang merusak?

Tahapan Penambangan (sumber: http://blog.djarumbeasiswaplus.org)

 

Gambar diatas menjelaskan secara sederhana bagaimana tahapan dalam industri tambang. Industri tambang adalah industri ekstraktif, di tahapan awal ada proses pembukaan lahan dan pembukaan tanah pucuk dan pembuangan batuan penutup. Tahapan ini pastinya akan mengubah rona awal dari daerah tersebut. Lebih detailnya begini poin-poinnya, proses pembukaan lahan pasti akan mengakibatkan hal-hal berikut:

  • Tanah atas yang subur berpotensi hilang
  • Vegetasi dibabat, daerah menjadi gundul, maka akan mudah tererosi dan longsor.
  • Kondisi fauna dan flora terusakan, sehinga ekosistemnya terganggu.
  • Berpotensi mencemari sungai, danau, dan laut.
  • Terjadi polusi suara dan udara (debu batu bara, debu jalan angkut, dll)

Itulah kenapa disebut industri tambang merusak. Itu satu sisi, disisi lain harus disadari, bahwa kehidupan kita tidak akan lepas dari industri ini.

 

Tambang dalam Kehidupan Kita

Ilustrasi bagaimana vitalnya industri tambang (sumber http://www.chaneyenterprises.com)

 

Yap, pada dasarnya mau tidak mau, sadar tidak sadar kehidupan kita tidak akan lepas dari barang tambang. Mari kita cek sekeliling kita.

  1. Terbuat dari apakah kabel telepon, kabel lstrik, kabel kulkas di rumah kita?
  2. Bisakah kita hidup tanpa listrik? Apa bahan bakar power stationnya?
  3. Cek barang yang paling dekat dengan kita, Handphone, apa komponenenya?

Kabel telepon, listrik dan kulkas terbuat dari tembaga atau aluminium, dari mana? Tambang. Bahan bakar power station (salah satunya) adalah batubara, dari tambang. Menurut sebuah litelatur di dalam Handphone terdapat 27 logan dan mineral, dari mana? Tambang. Harus kita sadari bahwa kita tidak bisa lepas dari industri tambang. Itu fakta yang tidak dapat kita hindari.

Lalu, sebenarnya bagiamana konsep ideal dari industri ini? Di dalam dunia Pertambangan dikenal sebuah kredo Good Mining Practice. Sebuah paham bagaimana seharusnya para pelaku industri ini menjalankan kegiatannya dengan “Good”, bagaimana definisi “Good” dalam praktek industri ini?

Good Mining Practice merupakan seluruh rangkaian proses tahapan yang dilalui dari awal hingga akhir dengan mengikuti standar, norma, serta peraturan yang berlaku dengan baik dan benar untuk memperoleh tujuan pertambangan dengan efisien. Rangkaian proses ini memiliki beberapa ciri utama seperti peduli lingkungan, peduli kesehatan, keselamatan, dan keamanan lingkungan kerja, menerapkkan prinsip konservasi, memiliki nilai tambah, dan dapat mengoptimalisasikan proses penambangan.

Terkadang ada 2 hal yang terlupa dari industri tambang, yakni: reklamasi dan paska tambang. 2 hal inilah kunci penting dalam hal Good Mining Practice terutama dalam hal konsep peduli lingkungan.

Reklamasi dan paska tambang

Closing mines succesfully has been more problematic than opening mines succesfully” Strongman (2000)

Reklamasi dan paska tambang adalah dua kegiatan yang berbeda, hingga hari ini masih banyak pihak yang menyamakan keduanya atau mayoritas lebih mengenal frase reklamasi daripada paska tambang. Padahal memahami arti keduanya akan sangat penting untuk lebih mengenal inudstri tambang dan hubungannya dengan pengelolaan lingkungan. Menurut UU No 4 Tahun 2009 definisi dari reklamasi dan paska tambang adalah sebagai berikut:

Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.Kegiatan Paska tambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.

Yap, dari definisi itu poin pentingnya adalah bahwa reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sejak awal tambang (paralel), sementara paska tambang adalah kegiatan yang dilakukan setelah tambang berhenti beroperasi. Dua program ini sangat penting dalam konsep Good Mining Practice karena didalam UU Minerba disebutkan.

Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik, pemegang IUP dan IUPK wajib melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan, termasuk kegiatan reklamasi dan pascatambang (pasal 96)

Setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pasca tambang pada saat mengajukan permohonan IUP atau IUPK Operasi Produksi (pasal 99)

Kita fokuskan pada pasal 99, setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pasca tambang pada saat mengajukan permohonan IUP atau IUPK Operasi Produksi, apa artinya? Artinya tidak ada satupun perusahaan yang beroperasi di Indonesia yang tidak memiliki rencana reklamasi dan paska tambang.

The best time to begin the reclamationn process of mines is before the first excavations are initiated”  Hartman dan Murtmansky (2002).

Lebih jauh, hal ini mengartikan setiap perusahaan tambang yang beroperasi sudah memiliki gambaran kegiatan reklamasi sepanjang kegiatan tambang berlangsung dan rencana paska tambang setelah perusahaan mereka selesai berproduksi. Oleh karena itu, seharusnya kita tidak akan mendengar adanya lubang-lubang bekas tambang yang menganga atau lahan bekas tambang yang ditinggalkan begitu saja setelah perusahaan berhenti beroperasi.

Pasal 100 UU Minerba menjelaskan dengan lebih jelas bagaimana reklamasi dan paska tambang meminimalisir dampak lingkungan dari industri ini.

 Pemegang IUP & IUPK wajib menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang (pasal 100)

Dalam kuliah Lingkungan Pertambangan, saya diajarkan lebih detail terkait uang jaminan reklamasi dan paska tambang ini. Selain membuat dan menyerahkan rencana reklamasi dan paska tambang ketika ingin mengajukan ijin usaha, dalam keberjalanan operasi, perusahaan juga harus menyediakan uang jaminan reklamasi dan paska tambang. Artinya tidak hanya rencana yang dibuat, rencana reklamasi dan paska tambang pasti membutuhkan dana dan UU Minerba menyebutkan dana untuk reklamasi dan paska tambang harus disetor atau dijaminkan jauh-jauh hari sebelum rencana reklamasi dan paska tambang dijalankan.

Hal ini mengartikan bukankah seharusnya kita tidak melihat lubang-lubang atau area bekas tambang yang dtinggal begitu saja? Karena dana untuk reklamasi dan paska tambang itu sudha ada?

Disinilah poin kebijakan berperan, dalam konteks apa yang disampaikan Roderick G Eggert, faktor kebijakan di Indonesia terutama hubungan antara Tambang dan Lingkungan, pada dasarnya sudah diatur dengan sangat baik, hanya saja oknum-oknum di lapanagn yang menyalahi aturan yang sudah baik ini.

Ilustrasi Tambang yang tidak bertanggung jawab (sumber: http://gallery.sunstar.com)

 

Ilustrasi Tambang yang tidak bertanggungjawab (2) (sumber: http://nicholsoncartoons.com)

 

Contoh Sukses Paska Tambang

Mengapa kita lebih sering mendengar berita buruk tentang tambang, terutama tentang hubungannya dengan lingkungan. Padahal, khususnya dalam hal penutupan atau paska tambang. Sudah ada beberapa contoh suksesnya, meskipun, sekali lagi, mengembalikan lahan bekas tambang ke kondisi awalnya adalah hal yang sulit, butuh waktu yang lama.

Eden project, begitu disebutnya, siapa yang menyangka tempat dengan desain sangat unik ini dulunya adalah bekas tambang Timah. Beginilah salah satu contoh keberhasilan program paska tambang. Eden project adalah bekas daerah tambang yang disulap menjadi rumah kaca terbesar. Kini didalam Biosfer raksana yang  Terletak di Cornwall, Inggris ini hidup ratusan jenis tumbuhan tropis dan barat yang dipelihara secara terpisah. Selain menjadi salah satu daya tarik wisatwan, project yang diresmikan pada tahun 2000 ini kini juga sukses menjadi role model dalam hal alih fungsi lahan bekas tambang.

 

Eden Project (1) (sumber: http://www.emeraldcornwall.co.uk)

 

Eden Project (2) (Sumber: http://www.want2donate.org)

 

Eden Project in the night (sumber: http://www.cornwalls.co.uk)

Di dalam negeri, contoh pelaksanaan paska tambang juga dapat kita lihat pada pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Petangis Mine coal Kalimantan Timur, bekas tambang batubara di Desa Petangis, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur kini disulap menjadi Taman Hutan Raya dan tempat rekreasi. (Sumber gambar diambil dari materi kuliah Lingkungan Pertambangan Prodi Teknik Pertambangan ITB)
tahura petangis coal tahura petangis (2) contoh lain penutupan tambang
Kesimpulan

Yang masih menjadi pertanyaan bersama adalah mengapa dengan aturan yang sudah baik itu, hingga kini kita masih sering mendengar reklamasi yang tidak dijalankan atau kegiatan paska tambang yang minim dilakukan?

Terdapat 2 kemungkinan untuk menjawab itu.

  1. Dana reklamasi ada/atau paska tambang yang sudah disetorkan tidak digunakan sebagai mana mestinya.
  2. Sejak awal memang sudah bermasalah di perizinannya, artinya perusahaan itu mendapat ijin tanpa memberikan rencana reklamasi amupun paska tambang. Karena faktanya sejak UU Minerba diterbitkan, banyak bermunculan Ijin-Ijin siluman, konkalingkong dengan oknum pemerintah daerah. Oleh karenanya beberapa tahun terkahir ESDM bekerjasama dengan KPK sedang berusaha mendata ulang dan merapihkan hal itu.

Semoga kedepannya value Good Mining Practice benar-benar bisa diterapkan.

 

Bahan Bacaan

2 thoughts on “Good Mining Practice, Reklamasi, Paska Tambang dan Oknum yang Merusak Sistem Tambang

  1. Luar biasa Kakak 1 ini, istiqomah terus berbagi ide dengan menulis. Usul kak, posting narasi LPJ kakak tentang berkemahasiswaan di ESDM dong kak,🙂 semangat dan sukses selalu ka Den!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s