Tarik Ulur Kontrak Freeport

Dalam tulisan berjudul “Simalakama Saham Freeport” pada kolom Opini Kompas (1/2) Berly Martawardaya memaparkan dua opsi terkait Kontrak Freeport yang akan habis pada tahun 2021. Sesuai PP Nomor 77 Tahun 2014 Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa pembahasan proses perpanjangan baru bisa dilakukan 2 tahun sebelum kontrak berakhir yaitu Desember 2019 dan maksimal 6 bulan sebelum kontrak berakhir yaitu Juli 2021. Dalam tulisannya Berly menyampaikan 2 opsi, pertama adalah memperpanjang kontrak Freeport dengan catatan perlu adanya penegasan terhadap PT Freeport Indonesia untuk mematuhi UU Minerba, meningkatkan royalti dan perbaikan pengolahan limbah. Opsi kedua adalah memutus kontrak dan memberikan hak pengelolaan kepada BUMN.

Kedua Opsi tersebut memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Namun sebelum mendiskusikan keuntungan dan kerugian di masing-masing opsi, hal pertama yang harus dijawab adalah bagaimana konsep pemerintah terhadap pengelolaan tembaga nasional, apakah sekedar memproduksi copper cathode lalu ekspor atau integrasi hulu sampai hilir industri tembaga,  karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil nantinya.

Saat ini satu-satunya pabrik pemurnian tembaga (smelter) di Indonesia adalah PT Smelting Gresik, perusahaan smelter ini dibangun atas kerjasama PT. Freeport Indonesia dan Konsorsium Jepang. Dengan kapasitas produksi 300ribu ton copper cathode pertahunnya, pemenuhan 1juta ton bahan baku konsentrat tembaga dipasok sebagian besar oleh PT Freeport Indonesia dan sebagian kecil oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Selain itu, sebagai amanat UU  Minerba untuk tidak mengekspor raw material maksimal pada Januari 2017, PT Freeport Indonesia sedang melakukan pembangunan pabrik smelter baru yang direncanakan berkapasitas 2juta ton konsentrat tembaga pertahun. Jika melihat dari progres pembangunan pabrik smelter yang baru sampai tahap penentuan lahan, agaknya sulit menyelesaikan pabrik smelter ini sesuai target pemerintah pada tahun 2017, paling tidak pabrik smelter baru ini akan berdiri pada tahun 2019, itupun jika semua berjalan sesuai rencana. Tanpa kedua pabrik smelter, Indonesia hanya akan menjadi eksportir konsentrat tembaga.

Dua Opsi

Jika pemerintah hari ini menyatakan tidak akan memperpanjang kontrak Freeport, maka pastinya Freeport akan menghentikan investasi tambang bawah tanahnya sebesar USD15 Juta, pembangunan smelter baru akan dihentikan dan produksi akan menurun. Berbeda dengan industri migas, dalam Industri tambang, yang dikhawatirkan bukan penurunan produksi, tetapi dampak dari penurunan produksi. 80% perputaran uang industri tambang adalah di hulu sementara industri migas di hilir. Penurunan produksi PT Freeport Indonesia akan berdampak pada pengurangan tenaga kerja, penurunan produksi smelting gresik (karena penurunan supply bahan baku) dan berhentinya pembangunan pabrik smelting baru artinya (mungkin) Indonesia tidak akan memiliki pabrik smelter lagi di kemudian hari, dampaknya Indonesia hanya akan menjadi eksportir raw material atau konsentrat tembaga.

Memperpanjang kontrak Freeport tentu juga memiliki konsekuensi, selain konsekuensi politis, karena cap negatif sudah sangat tertanam di sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap Freeport terdapat beberapa konsekuensi lain, yaitu; pertama, kesempatan alih teknologi yang urung terjadi karena BUMN tidak mengelola tambang Freeport. Kedua, Indonesia hanya akan mendapat royalti dan pajak. Ketiga, sumberdaya strategis bangsa (tembaga) gagal untuk dikelola sendiri.

Mungkinkah pemerintah membuat skema transisi dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah/ Peraturan Menteri untuk memastikan gejolak pergantian tidak terjadi seperti kasus Mahakam? Tetapi faktanya Industri tambang tidak menganut Cost Recovery, sehingga peralatan dan infrastruktur yang terpasang notabene adalah aset Freeport Indonesia bukan aset pemerintah.

Selamat memutuskan PakJE!

 

*tulisan ini belum matang, masih akan berlanjut*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s